hari-hari ini melemahkan saya.. mengaburkan saya.. menggelapkan mata saya..
ya hari-hari ini. saya pun dibuat merenung olehnya…
26 januari 2011 (di atas jam 7 malam)
kami dijadwalkan untuk menghadiri briefing seputar tesis di salemba. tapi kog kesannya nyeremin banget gitu. sampai membuka data segala bahwa rata-rata mahasiswa menyelesaikan tesis dalam 2 semester. mateng deh gw.. amit-amit lah ya. lalu bercerita pula bahwa para dosen mulai melakukan pengetatan terhadap setiap produk ilmiah, terutama tesis. bahkan, jika diperlukan seorang pembimbing dapat mencabut bimbingannya jika dirasakan perlu meski mahasiswanya sudah melewati tahapan sidang proposal.. sebenarnya sah-sah saja sih apa yang disampaikan oleh sang dosen. tapi kalo boleh jujur, persiapan saya masih sangat minim. kendalanya banyak, mulai terus-terus kekurangan waktu sampai kendala yang menurut saya diluar kendali. seperti contoh safi yang mogok makan, safi yang ga mau berbagi tablet sehingga ketika saatnya saya ingin pakai, itu tablet malah lo-bet.
abis briefing, dalam hati, saya tau manajemen kerja dan waktu adalah yang saya perlukan saat ini. setidaknya saya perlu share ke orang terdekat (yang adalah suami sendiri). tentunya saya tidak bisa maksimal mengerjakan tesis kalau saya sendiri pula yang harus mengasuh safi. saya harus masak, saya harus menyuapi (yang bisa makan waktu berjam-jam), menemani main. tapi, saya tidak punya pengasuh. di rumah, hanya ada kami berdua. yang beres2in rumah adalah tukang cuci setengah hari. tidak bisa saya minta bantuannya 24 jam.
masih malam itu, dalam perjalanan pulang. saya mulai telepon si bapak. maksudnya untuk mengobrol sambil cerita soal briefing malam itu. saya ingin dia tau dan mengerti bagaimana kesulitan saya. terus terang malam itu boleh dibilang saya PANIK, sedikit merasa ga PEDE, merasa TERLAMBAT, merasa BUTUH UANG BANYAK. gimana kalau saya tidak lulus, gimana kalau saya mengalami banyak kendala nantinya, gimana anak saya, gimana ke depannya nanti.
sayangnya, telepon ndak diangkat. saya tinggalkan pesan dan tidak dibalas. dan saya pun menunggu esok datang. semoga cepat tiba…
27 januari 2011 (pagi)
si bapak telepon tapi tidak menanggapi pesan saya di malam sebelumnya. mungkin tidak menganggap apa yang saya rasakan itu sebagai sesuatu yang patut dicemaskan. saya kembali sampaikan kegundahan lewat sms. merasa ia perlu mematuhi jadwal pulangnya di bulan februari (jangan diundur2 lagi seperti yang sudah-sudah). sesak saya sampai puncaknya karena lagi-lagi tidak ditanggapi. saya mengungkapkan bahwa rasanya seperti saya tidak sanggup lagi (padahal saya jauh lebih kuat biasanya).. dan jawabnya hanyalah YA. (maksudnya???) saya sampaikan lagi pesan bahwa saya mungkin tidak mampu menyelesaikan dan maaf saya jadi menyia2kan uang tabungan kami. balasannya kembali YA
mau tidak mau saya jadi harus membandingkan: dulu, ketika si bapak tersandung masalah tesis, saya lari ke sana kemari mencari solusi dan bantuan atau dukungan. pendapat, opini, masukan, dari wakil rektor bidang akademis. tidak mencari backingan, tapi lebih kepada nasehat dan saran bagaimana sebaiknya.. meski pada akhirnya kami harus merelakan juga uang tabungan hanya untuk satu semester agar dia bisa sidang lagi.
sebaliknya, dari awal saya tidak mendapat dukungan. ya, keputusan itu memang saya yang buat. si bapak selalu bilang, risikonya saya yang harus tanggung sendiri. pada prakteknya memang demikian, tapi kan ada baiknya kalau hal itu tidak perlu ditekankan berulang-ulang karena hanya akan menambah rasa tertekan.
hari itu juga, saya lantas memutuskan komunikasi sampai detik ini.
28 januari 2011
saya ada janji ke perpus HI untuk melihat tesis. sebuah kunjungan yang sebenarnya tidak saya sukai, tetapi harus dilakukan. seperti biasa, saya baru tenang meninggalkan rumah kalau safi sudah dalam keadaan beres (artinya sudah makan, sudah mandi). tapi seperti biasa pula, safi selalu tau momen yang tepat untuk meledakkan sumbu emosi (yang padahal memang sudah pendek itu). dan akhirnya berbuah pahit. memar kecil (setitik) di pipi adalah buah tangan saya untuknya. — janji jam 10 ke perpus, tapi safi baru selesai makan jam 11. perpus akan tutup lagi jam 2. perjalanan dari rumah ke kampus makan 1 jam lebih — mengingat hari itu adalah sabtu, yang macetnya bisa ampun-ampunan
alhasil, jadi juga saya berangkat. dari rencana yang tadinya tidak mau bawa safi, kemudian jadi saya bawa. Alasannya: tukang cuci sudah mau pulang karena harus bekerja lagi di rumah satunya; selain itu, mood saya tidak mendukung untuk meninggalkan safi di rumah bersama si ibu cuci. karena biasanya selalu dikasih MIE INSTAN
dan hujan deras menyertai perjalanan siang itu. saya hanya bisa berdoa, semoga safi tidak sakit
hasil dari ke perpus: KECEWA. penjaga perpus tidak menyebutkan dalam pesan singkatnya bahwa tidak ada tesis di UPDHI. padahal, saya sudah jelas2 menyampaikan maksud ketika menghubungi beliau di malam sebelumnya bahwa kedatangan saya adalah untuk melihat tesis.
saya pun berlalu sambil SPEECHLESS
29 januari 2011 (sore)
yang membuat saya malas menelepon orangtua sendiri adalah selalu ada celah dari kata-katanya yang mengecilkan hati. apalagi mengingat hal-hal tak menyenangkan dari kemarin. tapi entah kenapa tetap saja telepon lagi telepon lagi. seperti sore itu. dia (nyokap) mengecilkan hati saya dalam rentetan obrolan ini:
pertama, dia sering sekali bilang kalau gaji kami berdua (saya dengan si bapak) kog kecil. teman-temannya selalu cerita bahwa anak mereka punya gaji 20-30 juta tanpa bisa mendeskripsikan pekerjaan seperti apa. dan kalaupun saya jelaskan apa pekerjaan kami, saya jamin ia juga tidak tau dan tidak menganggapnya penting.
kedua, dia sering sekali bilang kalau sayang sekali, dulu saya mengambil keputusan untuk kuliah. kalau dihitung2 saya sudah menghabiskan uang sekitar 50 juta. padahal, uang segitu sudah bisa buat kredit mobil atau beli rumah lagi. (mengingat di sebelah rumah saya, memang ada rumah kosong yang mau dijual) dan dengan beli rumah itu, saya bisa memperluas rumah saya. yang mungkin menurutnya masih mini. saya jawab kata-katanya dengan bilang, saya memang suka sekolah. malah mau S3,saya pun berseloroh. Dibantahnya dengan: tidak usah lah. buat apa sekolah, kalau tidak kerja. –> padahal saya sudah tekankan bahwa saya tidak bekerja untuk sementara, nanti saya pasti bekerja. tapi sepertinya dia lupa. atau memang menyimpulkan kalau saya tidak akan dapat pekerjaan lagi.
intinya dari perjalanan 4 hari ini: saya selalu ingin mengembangkan diri. tapi saya juga tau, hal ini tidak pernah didukung oleh suami saya, oleh orangtua saya, oleh saudara saya, apalagi oleh mertua saya. dalam keadaan tidak didukung, saya masih harus berpanjang sabar direpotkan oleh anak yang mulai runyam dan rewel kalo saya mulai fokus di depan laptop. –> padahal sesibuk-sibuknya, saya tetap googling cari resep, belanja, termasuk berpikir keras masak apa ya hari ini.
saya butuh disemangati, entah oleh diri sendiri atau oleh orang lain. tapi jika tidak ada yang mau menyemangati, saya sudah terbiasa melakukannya sendiri. termasuk, bayar kuliah sendiri: tetap menulis hanya demi 1-2 juta, bela-belain ngajuin cicilan setiap semester. menyempatkan waktu datang ke mahalum sambil bawa materai dan surat dari ketua jurusan. dengan pengajuan ini, upah nulis yang minim itu bisa cukup untuk bayar cicilan. ini jauh lebih ringan ketimbang saya harus bayar 10,5 juta langsung.
HANYA SAJA dan SAYANGNYA, saat ini stok semangat saya tengah kendur. pemompanya rusak. dan saya harus menunduk sedih. mengakui bahwa saya terusik oleh ketidakpedulian mereka..
