figure out of my self

.. in other way..

i just had a chit chat with an old friend from high school. we had an ordinary conversation.. just say hi, how are you or something like that..

and then i tried to recall my memory about him, about class, about all the things from high school. surprise me,, actually i’ve just forgot about those whole thing.

i even can’t remember who sat next to me in class.. who beside.. and what color of my school bag..

i don’t know is it normal for us to forget it? or it just me?

But clearly, what just i feeled makes many things flying in my head. Who am i and What do i want? What makes me happy? and how to run it? 

yeah, i’m may be losing my self right now.. just for a while (still, i have no idea when it’ll end)

Categories: Uncategorized | Leave a comment

4 hari ini

hari-hari ini melemahkan saya.. mengaburkan saya.. menggelapkan mata saya..

ya hari-hari ini. saya pun dibuat merenung olehnya…

26 januari 2011 (di atas jam 7 malam)

kami dijadwalkan untuk menghadiri briefing seputar tesis di salemba. tapi kog kesannya nyeremin banget gitu. sampai membuka data segala bahwa rata-rata mahasiswa menyelesaikan tesis dalam 2 semester. mateng deh gw.. amit-amit lah ya. lalu bercerita pula bahwa para dosen mulai melakukan pengetatan terhadap setiap produk ilmiah, terutama tesis. bahkan, jika diperlukan seorang pembimbing dapat mencabut bimbingannya jika dirasakan perlu meski mahasiswanya sudah melewati tahapan sidang proposal.. sebenarnya sah-sah saja sih apa yang disampaikan oleh sang dosen. tapi kalo boleh jujur, persiapan saya masih sangat minim. kendalanya banyak, mulai terus-terus kekurangan waktu sampai kendala yang menurut saya diluar kendali. seperti contoh safi yang mogok makan, safi yang ga mau berbagi tablet sehingga ketika saatnya saya ingin pakai, itu tablet malah lo-bet.

abis briefing, dalam hati, saya tau manajemen kerja dan waktu adalah yang saya perlukan saat ini. setidaknya saya perlu share ke orang terdekat (yang adalah suami sendiri). tentunya saya tidak bisa maksimal mengerjakan tesis kalau saya sendiri pula yang harus mengasuh safi. saya harus masak, saya harus menyuapi (yang bisa makan waktu berjam-jam), menemani main. tapi, saya tidak punya pengasuh. di rumah, hanya ada kami berdua. yang beres2in rumah adalah tukang cuci setengah hari. tidak bisa saya minta bantuannya 24 jam.

masih malam itu, dalam perjalanan pulang. saya mulai telepon si bapak. maksudnya untuk mengobrol sambil cerita soal briefing malam itu. saya ingin dia tau dan mengerti bagaimana kesulitan saya. terus terang malam itu boleh dibilang saya PANIK, sedikit merasa ga PEDE, merasa TERLAMBAT, merasa BUTUH UANG BANYAK. gimana kalau saya tidak lulus, gimana kalau saya mengalami banyak kendala nantinya, gimana anak saya, gimana ke depannya nanti.

sayangnya, telepon ndak diangkat. saya tinggalkan pesan dan tidak dibalas. dan saya pun menunggu esok datang. semoga cepat tiba…

27 januari 2011 (pagi)

si bapak telepon tapi tidak menanggapi pesan saya di malam sebelumnya. mungkin tidak menganggap apa yang saya rasakan itu sebagai sesuatu yang patut dicemaskan. saya kembali sampaikan kegundahan lewat sms. merasa ia perlu mematuhi jadwal pulangnya di bulan februari (jangan diundur2 lagi seperti yang sudah-sudah). sesak saya sampai puncaknya karena lagi-lagi tidak ditanggapi. saya mengungkapkan bahwa rasanya seperti saya tidak sanggup lagi (padahal saya jauh lebih kuat biasanya).. dan jawabnya hanyalah YA. (maksudnya???) saya sampaikan lagi pesan bahwa saya mungkin tidak mampu menyelesaikan dan maaf saya jadi menyia2kan uang tabungan kami. balasannya kembali YA

mau tidak mau saya jadi harus membandingkan: dulu, ketika si bapak tersandung masalah tesis, saya lari ke sana kemari mencari solusi dan bantuan atau dukungan. pendapat, opini, masukan, dari wakil rektor bidang akademis. tidak mencari backingan, tapi lebih kepada nasehat dan saran bagaimana sebaiknya.. meski pada akhirnya kami harus merelakan juga uang tabungan hanya untuk satu semester agar dia bisa sidang lagi.

sebaliknya, dari awal saya tidak mendapat dukungan. ya, keputusan itu memang saya yang buat. si bapak selalu bilang, risikonya saya yang harus tanggung sendiri. pada prakteknya memang demikian, tapi kan ada baiknya kalau hal itu tidak perlu ditekankan berulang-ulang karena hanya akan menambah rasa tertekan.

hari itu juga, saya lantas memutuskan komunikasi sampai detik ini.

28 januari 2011

saya ada janji ke perpus HI untuk melihat tesis. sebuah kunjungan yang sebenarnya tidak saya sukai, tetapi harus dilakukan. seperti biasa, saya baru tenang meninggalkan rumah kalau safi sudah dalam keadaan beres (artinya sudah makan, sudah mandi). tapi seperti biasa pula, safi selalu tau momen yang tepat untuk meledakkan sumbu emosi (yang padahal memang sudah pendek itu). dan akhirnya berbuah pahit. memar kecil (setitik) di pipi adalah buah tangan saya untuknya. — janji jam 10 ke perpus, tapi safi baru selesai makan jam 11. perpus akan tutup lagi jam 2. perjalanan dari rumah ke kampus makan 1 jam lebih — mengingat hari itu adalah sabtu, yang macetnya bisa ampun-ampunan

alhasil, jadi juga saya berangkat. dari rencana yang tadinya tidak mau bawa safi, kemudian jadi saya bawa. Alasannya: tukang cuci sudah mau pulang karena harus bekerja lagi di rumah satunya; selain itu, mood saya tidak mendukung untuk meninggalkan safi di rumah bersama si ibu cuci. karena biasanya selalu dikasih MIE INSTAN

dan hujan deras menyertai perjalanan siang itu. saya hanya bisa berdoa, semoga safi tidak sakit

hasil dari ke perpus: KECEWA. penjaga perpus tidak menyebutkan dalam pesan singkatnya bahwa tidak ada tesis di UPDHI. padahal, saya sudah jelas2 menyampaikan maksud ketika menghubungi beliau di malam sebelumnya bahwa kedatangan saya adalah untuk melihat tesis.

saya pun berlalu sambil SPEECHLESS

29 januari 2011 (sore)

yang membuat saya malas menelepon orangtua sendiri adalah selalu ada celah dari kata-katanya  yang mengecilkan hati. apalagi mengingat hal-hal tak menyenangkan dari kemarin. tapi entah kenapa tetap saja telepon lagi telepon lagi. seperti sore itu. dia (nyokap) mengecilkan hati saya dalam rentetan obrolan ini:

pertama, dia sering sekali bilang kalau gaji kami berdua (saya dengan si bapak) kog kecil. teman-temannya selalu cerita bahwa anak mereka punya gaji 20-30 juta tanpa bisa mendeskripsikan pekerjaan seperti apa. dan kalaupun saya jelaskan apa pekerjaan kami, saya jamin ia juga tidak tau dan tidak menganggapnya penting.

kedua, dia sering sekali bilang kalau sayang sekali, dulu saya mengambil keputusan untuk kuliah. kalau dihitung2 saya sudah menghabiskan uang sekitar 50 juta. padahal, uang segitu sudah bisa buat kredit mobil atau beli rumah lagi. (mengingat di sebelah rumah saya, memang ada rumah kosong yang mau dijual) dan dengan beli rumah itu, saya bisa memperluas rumah saya. yang mungkin menurutnya masih mini. saya jawab kata-katanya dengan bilang, saya memang suka sekolah. malah mau S3,saya pun berseloroh. Dibantahnya dengan: tidak usah lah. buat apa sekolah, kalau tidak kerja. –> padahal saya sudah tekankan bahwa saya tidak bekerja untuk sementara, nanti saya pasti bekerja. tapi sepertinya dia lupa. atau memang menyimpulkan kalau saya tidak akan dapat pekerjaan lagi.

intinya dari perjalanan 4 hari ini: saya selalu ingin mengembangkan diri. tapi saya juga tau, hal ini tidak pernah didukung oleh suami saya, oleh orangtua saya, oleh saudara saya, apalagi oleh mertua saya. dalam keadaan tidak didukung, saya masih harus berpanjang sabar direpotkan oleh anak yang mulai runyam dan rewel kalo saya mulai fokus di depan laptop. –> padahal sesibuk-sibuknya, saya tetap googling cari resep, belanja, termasuk berpikir keras masak apa ya hari ini.

saya butuh disemangati, entah oleh diri sendiri atau oleh orang lain. tapi jika tidak ada yang mau menyemangati, saya sudah terbiasa melakukannya sendiri. termasuk, bayar kuliah sendiri: tetap menulis hanya demi 1-2 juta, bela-belain ngajuin cicilan setiap semester. menyempatkan waktu datang ke mahalum sambil bawa materai dan surat dari ketua jurusan. dengan pengajuan ini, upah nulis yang minim itu bisa cukup untuk bayar cicilan. ini jauh lebih ringan ketimbang saya harus bayar 10,5 juta langsung.

HANYA SAJA dan SAYANGNYA, saat ini stok semangat saya tengah kendur. pemompanya rusak. dan saya harus menunduk sedih. mengakui bahwa saya terusik oleh ketidakpedulian mereka..

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

mentok!

mentok. buntu. apalah itu istilah lainnya.

sedang mengingat2 omongan dari doi yang sering bikin mentok…

kalo gw bilang mau liburan, pasti diajaknya cuma ke tempat2 yang orang ndak tau.. (di penangkaran buaya di kaltim, pojok2 bandung yang kayaknya biasa aja)

kalo gw bilang mau keluar negeri yuk kapan2, pasti dijawabnya iya bakalan pergi kog, kan naik haji nanti.. (padahal kan maksud gw rusia kek gitu timor timur kek gitu)

kalo gw bilang mo pulang kampung, nanti aja barengan kan gw juga mau pulang.. (booo… secara kerjanya di luar terus. waktu pulang terbatas)

kalo gw bilang mau kuliah lagi, jawabnya ga usah tapi kalo mau ya boleh aja (dengan arti kalo lagi stres dengan tugas kuliah ga usah dishare ke doi, pun ga mau tau urusan2 lain plus kalo gw bilang mo kerja, ya kerja aja tapi urus sendiri masalah lo. intinya jangan ngeluh, ga usah share.. tanggung ndiri)

kalo gw masak, di bilangnya, “kog kalo ada gw lo ga masak2 gitu” (boo lo kira masak ga perlu perisapan belanja dan bahan. secara dia pulangnya ngedadak terus dan gw cuma berdua di rumah ngapain nyetok bahan banyak2 .. kayak anaknya doyan makan aja)

kalo gw cerita soal anaknya yang susah makan, jawabnya “ya sabar itu kan anak lo. uruslah. kalo ga ya buang aja” (boooo meski dia ga serius ngomong gitu yang bener aja donk, gw juga ngeluh dan cerita kan cuma buat ngurangin kesel gitu secara di rumah cuma berdua sama anak kecil yang belom tau apa2)

dengan nulis begini, gw sebetulnya ga ambil pusing. ada kalanya ngomel membantu untuk relieve. di rumah ga fair kalo gw ngomelnya ke anak. kalo ngomel ke tembok, ga dapet feelnya booo, berasa bego donk…

 

mentok-lah!

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

my first cupcake

pertama kalinya buat cupcake.. ehm enak! perfecto lah pokoknya ga pake gagal, meski pake ‘keajaiban’ dikit..

hahaha cerita yang ajaibnya dulu ya nih.. kan kemarin ke carrefour berdua cafi. niatnya cuma beli loyang cupcake (secara belum punya). waktu sebelumnya beli bahan kue di daily food mal depok, eh tuh loyang malah ga ada .. payah… sebetulnya nanggung banget ke carrefour cuma beli loyang tok, padahal lagi libur dan yang belanja euidih PENUH! antrian puanjang… untung safi tak iming2i pake es krim jadi agak anteng…

yo weis, itu loyang sengaja pilih yang mahal 80ribu,,, warnanya item dan tebel. produk fackelmann. isinya 12.. ada yang murah banget dari alumunium biasa gitu paling cuma 10ribuan apa. *lupa… hasrat hati pilih itu karena dah terlanjur puas. sebelumnya beli loyang loaf dengan merek sama dan hasilnya juga bagus. ga lengket. ga problem lah…

oke! antrian selesai. sampai rumah. safi dah kasih makan terus diboboin.. mulailah waktunya. ga sabar mau bikin cupcake.. resepnya baca-baca dari banyak blog. cuma saya lebih prefer resep2 cupcake amrik *terbius pesona afc yang nayangin resep-resep bercita rasa barat…

nih dia resepnya:

Bahan-Bahan Cupcake:

190 gram tepung terigu — saya pake Segitiga Biru

200 gram gula putih biasa — saya pake Gulaku .. tapi rasanya jadi agak manis.. mungkin nanti mau ta’ kurangin aja kalau bikin lagi

1½ sdt baking powder — coba sendok pengukur supaya lebih pas

1/2 sdt garam

8 sdm butter tawar, pada suhu ruangan — saya pake orchid butter dari indofood yang dikemas satuan kecil-kecil per batang

120 ml sour cream — saya pake merek Bulla dari australia. belinya di daily food/food hall

1 telur berukuran besar, pada suhu ruangan — ambil utuh

2 kuning telur berukuran besar, pada suhu ruangan.

loyang cupcake isi 6

Cara Membuat:

1. Posisikan rak pemanggang di tengah oven. Panaskan oven pada suhu 180 C selama 25 menit.

2. Campur tepung, gula, baking powder, dan garam dalam wadah mixer. Tambahkan butter, sour cream, telur dan kuning telur. Mix dengan kecepatan medium sampai gula halus.

3. Lapisi loyang cupcake isi 6 dengan paper cup

4. Bagi adonan secara rata di setiap papercup. Panggang sampai permukaan atas
5. Lanjut hias dengan krim frosting.. tapi saya lebih suka rasa cupcake asli daripada dikasih topping. jadi saya ga perlu pakecupcake pucat keemasan (selama 20-24 menit). Untuk memeriksa cupcake sudah jadi atau belum, tusuk dengan tusuk gigi dan lihat tusuk giginya bersih atau masih ada adonan yang lengket. Jika bersih, itu artinya kue sudah matang. Dinginkan di suhu ruangan.

6. tararara jadi deh

 

Nah yang saya maksud keajaiban tadi adalah:
saya salah perhitungan dalam beli loyang. malah ga pake perhitungan itu namanya! :P
Jadi, oven saya kecil.. lah mana muat itu loyang 12 biji masuk ke dalam oven… plus, adonannya pun cuma buat 6 biji.. tau gitu kan tadi saya beli loyang yang 6 biji aja… murah pun!!!
awalnya sempet panik gimana cara panggangnya.. tapi saya nekat…
Pintu oven ga ketutup semua karena loyang menjorok ke luar… so, saya tutup aja celah yang ga ketutup itu sama serbet setebel2nya… dengan waktu panggang saya tambahin 10 menit…
dag dig dug selama nunggu…
tapi akhirnya JADI JUGA! LEGA! :D
 ini dia beberapa bahan yang saya pakai:
kalau mau coba, yuk mariii enak kog.. asal ga pake acara salah beli loyang aja ;)
Categories: Uncategorized | Leave a comment

i can cook

hihi mungkin dini juga mengatakan kalau saya bisa masak. ya udah, diralat sedikit, saya suka masak. atau lebih tepatnya suka coba-coba resep, makanan yang emang saya pengenin.

sayangnya, si cafi ga suka makan :( paling dikit.. jadi kalo coba bikin apa-apa, pasti saya cuma niru resep setengahnya atau malah seperempatnya…

kalau bosan bikin paper, mikirin tesis, atau abis kejar dedlen kerjaan (meski cuma dikit), nah dapur jadi tempat yang paling pas untuk berekspresi. abisnya mau ke mana lagi. si aat kerjanya jauh, jadi di rumah cuma berdua.. pergi2 berdua ndak ada bapaknya, aga cape sayanya (soal e musti gendang gendong, naik turun angkot) :p ampe si cafi suka bilang, “naik takci aja yuk” hehehehhe

yup. baru-baru ini, tepatnya kamis tanggal 15/12 kemarin, saya bawa kue bikinin sendiri ke kampus… wuih abis disantap.. senang!!! jadi kepikiran mau bawa lagi nanti, mumpung masih ketemu temen2. kalo dah pada sibuk tesis semester depan, pasti deh jadi jarang ketemu…

kue yang kemarin saya bawa itu lemon cake.. resepnya simpel banget, tapi rasanya seger. cocok dan gampang untuk pemula macam saya.  soalnya pake air jeruk seger. nemu resep di blog yang ga populer,, sayang juga padahal rasa ini kue beneran enak … ini dia!!! Fotonya aku copas langsung dari blog asli.. penampakannya sama persis dengan yang aku buat

LEMON CAKE

Bahan:
3 butir telur –> maksudnya ambil kuning dan putihnya juga
2 kuning telur –> kalo yang ini, ya kuningnya aja
100 gram gula pasir
35 gram tepung maizena
100 gram tepung terigu
2 sendok makan air jeruk lemon
2 sendok teh kulit jeruk lemon parut -> berhubung lemon yang saya dapet kecil, maka sulit parut kulitnya. jadi saya pake kulit jeruk navala
75 gram mentega dilelehkan

Cara Membuat:
1.Panaskan oven (aku pake timer langsung pasang 50 menit) dengan panas 250 derajat C. setelah 1o menit pertama, turunkan panasnya jadi 160 derajat Celcius. dalam waktu 1o menit, semua kocokan adonan selesai dan langsung dipanggang.

2. siapkan loyang loaf yang diolesi margarin.

3. Kocok gula dan telur hingga kaku

4. Masukkan maizena dan tepung terigu sambil diayak dan diaduk rata.

5. Tambahkan kulit jeruk dan air jeruk, aduk rata.

6. Masukkan margarine cair ,aduk perlahan.

7. Tuang ke dalam loyang loaf

8. Oven selama 45 menit dengan suhu 160 derajat Celsius…

tarara.. jadi. santap sebagai teman minum teh enak juga… :)

note: oh ya,, ini sumber aslinya: http://duniarecipe.blogspot.com/2008/09/lemon-cake-recipe.html

Categories: Uncategorized | Leave a comment

ejakulasi

ejakulasi dini  dana

ide tulisan ini berawal dari intermezo pada perkuliahan di kelas senin kemarin. bahwa menjelang tutup tahun, banyak lembaga atau institusi yang menjalankan program dengan tujuan menghabiskan anggaran. kalau tidak dihabiskan maka biasanya akan hangus. bentuk penghabisan ini pun banyak macamnya, ada yang belikan laptop, atau pemda depok yang melakukan pembangunan pembatas jalan, atau program studi yang mengadakan seminar sana sini. pun, bukan hanya berlaku di dalam negeri saja. Menurut sang dosen, di Jepang pun begitu. Beliau yang kini tengah ambil s3- di negara Sakura itu mendapat hibah laptop dari dosennya di Jepang dalam rangka yang sama, menghabiskan anggaran.

Lalu, apa kaitannya dengan ejakulasi?

Begini. Ibarat sperma yang harus dikeluarkan, maka dana anggaran yang sudah diberikan atau disediakan untuk sebuah program pun harus dipakai atau dikeluarkan. Karena, kalau bersisa akan berdampak buruk bagi suplai dana di tahun mendatang. bisa jadi dikurangi jumlahnya dengan asumsi dana yang disediakan di tahun sebelum tak habis terpakai.

Tentunya, strategi mengoperasikan dana itu yang kemudian menimbulkan selentingan. Para pihak yang terlibat musti pandai2 menyalurkannya pada kegiatan atau program yang tepat.

Sambil memandang 2 bungkus biru obat di lemari sana, saya lantas berpikir “Ehm, jangan-jangan obat kaki gajah yang dihantar bu RT kemarin bisa jadi tujuannya sama. untuk menghabiskan dana.”

siapa tahu?! mengingat obatnya dibagikan gratis, cara kerjanya saya tak tahu. hanya saja, diberitakan setelah minum obat, banyak keluhan. ada yang mau minum ada yang kemudian tak memutuskan minum lagi.

entahlah…. ada yang bisa beri tahu saya? monggo….

 

 

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , | Leave a comment

apa artinya?

ini pertanyaan kedua yang muncul setelah tanya siapa nama anak saya? Tidak spesial padahal. Syafi Nataneila Ahnaf.

Syafi itu gabungan dari Syafaat dan Intan

Nataneila itu anugerah (pemberian) Tuhan

Ahnaf itu lurus jalan agamanya.

Awalnya, saya tak pusing bagaimana merancang dan memaknai nama. Itu semua Aat yang pikirkan. Karena ia yang lebih bersikeras. Justru tadinya ia hanya ingin dua kata: Syafi Ahnaf. Lantas, dengan alasan nama itu kurang ‘perempuan’, maka saya ngotot diselipkan Nataneila.

Kini, usia si pemilik nama hampir 3 tahun. Seperti biasa, renungan tentang namanya baru muncul selama saya tengah ada di angkot, menuju atau pulang dari kampus. Baru sekarang, saya menangkap esensi keseluruhan makna sebuah nama. Simpel, tapi mengena.

Syafi adalah pemberian tak terduga dari Tuhan, di saat kami (mungkin) belum merasa siap atau tanpa kami sadari bahwa kami pantas dititipkan amanat ini. Sejalan waktu, kami sadar betapa banyak teman dan saudara, tetangga kami yang justru tidak pernah punya kesempatan ber-anak. Syafi akan jadi harapan dan doa bahwa ia akan selalu ada di jalan yang benar. jalan itu mungkin berbelok, tapi tujuannya ‘lurus’ dan ia tak punya keinginan atau pikiran untuk menyimpang, berbalik, atau potong jalan (seperti yang saya lakukan).

What we did, what I did, is not a pride. But, she is, our pride. And surely the biggest one…

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Dua Kali

Kalau dibilang murtad, maka dengan jujur saya mengakui sudah murtad dua kali. Pertama karena pindah dari agama (Kristiani) ke Islam. Kedua, dari peminatan akademis di linguistik dan sastra Rusia menjadi ke-HI (hubungan internasional)-an, bahkan pada konsentrasi ekonomi politik internasional. Kog saya menganggapnya murtad?

Yang pertama sudah tampak jelas dan saya tidak sedang membahas itu dalam tulisan kali ini. Pastinya, tidak boleh ada penyesalan dalam murtad yang satu ini. Karena jika saya menyesal, maka lengkaplah saya sebagai seorang pendosa.

Nah, murtad yang kedua ini telah membuat saya menjalani proses berpikir sekaligus mengayakan filosofi hidup saya:

Setelah satu setengah tahun kuliah magister, HI mengajarkan saya bahwa negara sejatinya punya kekuatan yang diakui sebagai militer (pertahanan keamanan) dan ekonomi. Sebesar apapun saya berusaha mencari benang merah antara power negara ini menuju sebuah wacana budaya atau bahasa (terutama dalam pengerjaan paper) dan menjadikannya sebagai sesuatu yang penting dalam hubungan internasional, maka hasilnya kurang memuaskan. Dengan kata lain, penting sih penting tapi bukan itu core-nya! Alhasil, tetap saja budaya atau bahasa hanya sampai kepada wacana atau hanya menarik untuk dijadikan sebagai tema diskusi. Saya memang agak lancang kemudian menyebutnya sebagai tema untuk debat kusir semata. (Maafkan atas kelancangan ini)

Melindungi dan mencari nafkah — itu istilah saya untuk militer dan ekonomi sebagai esensi negara dalam lingkup HI — sejatinya merupakan tugas lelaki. Setidaknya ini yang diumbar-umbar sejak zaman klasik dan bahkan dalam pemahaman umat manusia kebanyakan di era modern ini. Dengan demikian, saya sepenuhnya sepakat pada perumpamaan bahwa negara ini diibaratkan sebagai lelaki. Segala hal yang ada di dalamnya dan berlangsung di dalamnya diibaratkan sebagai “para wanita’ yang wajib dilindungi dan dinafkahi oleh lelaki. Sebut saja,sektor-sektor kehidupan, sumber daya alam dan manusia, masalah-masalah sosial, budaya daerah dan nasional. Pokoknya semua selain militer dan ekonomi itu tadi. Pun, lewat sini pula saya mengerti bahwa akhirnya sampai kapanpun budaya dan bahasa merupakan penjelmaan ‘wanita’. Dan layaknya wanita, mereka adalah hiburan (dalam arti positif), adalah pelengkap, adalah pemberi dinamika bagi kehidupan negara. Tanpa kehadiran para ‘wanita’ ini, maka hampalah lelaki.

Dari sini pula, atribut kebahasaan dan kebudayaan yang tadinya melekat sekali di pikiran saya lepas perlahan dan kemudian saya simpan, kadang saya gantung. Tidak untuk dibuang tentu (dan tidak pernah ada keinginan untuk membuang). Dengan melepasnya, saya hanya berusaha lebih fleksibel agar tak terjebak selalu dengan kefanatikan, padahal ada hal-hal yang jauh lebih ‘keren’ di luar sana. Sesekali memang, atribut itu masih saya kenakan. Saya akui warnanya memudar dan agak rapuh karena lapuk, tapi setidaknya dia eksis!

 

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

I miss you but i hate you, Bangka

Lama ga nulis lagi, sampai saya digerakkan oleh sebuah kisah di pagi yang hangat ini.

Detik ini sebetulnya saya bimbang akankah bayar kuliah, akankah lanjut kuliah. Pembayaran terakhir adalah hari ini. Kenapa bimbang lanjut kuliah, padahal sebelum-sebelumnya saya sangat mantap?

Oh, ceritanya musti mundur. Tapi saya masih malas untuk cerita yang satu itu. Singkat kata, tante yang kanker akhirnya meninggal dunia. Saya kehilangan pegangan karena selama ini yang urus anak dan rumah adalah beliau. Sedihnya masih terasa sampai hari ini. Jadi maklum kalau saya malas ceritakan kembali. Rasanya masih menyesakkan!

Saya coba cari pengasuh dan baru dititip ke si Bibi 1 minggu, anak saya divonis tipus. Dari sinilah, Aat melarang saya untuk ngantor. Kerja di rumah boleh tapi tidak di kantor. Dan, saya pun resign. Sayang disayang sih sebetulnya, mengingat saya sudah karyawan di kantor yang ini. Status karyawan ini susah didapat karena harus 3 tahunan dulu. dan bla bla lainnya yang bisa menyayangkan kepergian saya.

Tapi semua itu dipatahkan dengan pernyataan Aat, “banyak positifnya bagi saya untuk tidak bekerja di tempat yang sekarang karena menghabiskan seluruh waktu saya.” Bahkan, menurut Aat, ini adalah keputusan yang terbaik untuk saya, dari segi psikis dan fisik.

Oke. akhirnya saya berhenti bekerja. Tapi, masih dapat tawaran menulis. Per edisi sekitar 3 artikel. Saya terima tentunya, sambil mengisi kesibukan.

Nah yang jadi masalah adalah soal kuliah. Ketika saya memutuskan kuliah, itu adalah karena saya merasa percaya diri bisa membiayai sendiri kuliah saya dari uang gaji per bulan. Tapi sekarang kan saya sudah ndak punya gaji.

Kata Aat, dia pun lebih suka saya berhenti kuliah. Tapi, kalau saya tetap berkeras melanjutkan pun, dia ingin membantu soal keuangan. Melunasi semua pembayaran kuliah. Kata-katanya ini membuat saya bimbang. Karena yang saya tangkap adalah kalimatnya yang pertama, bahwa lebih ingin saya berhenti kuliah. Tambahnya lagi, lebih bagus uang buat kuliah itu sekarang dijadikan modal.

Ehm. jadi serba bingung kan ya. Modal nya ngepas (selalu begini sepertinya). Sampai hari ini, yang adalah hari terakhir permbayaran kuliah, pagi-pagi sayya memantapkan hati untuk buka usaha. Ingin sekali punya toko bahan kue dan perlengkapan membuat kue di Bangka. Kenapa di Bangka? Karena toko seperti ini tidak ada, tapi pasarnya ada. Misalnya, ibu-ibu rumah tangga yang selalu susah cari bahan kue karena tidak tersedia di Bangka. Plus, sewa tokonya murah karena kebetulan punya orang tua dan sedang kosong. Untuk semua ini, saya mulai bikin bussiness plan dengan perkiraan rincian biaya dan daftar barang yang akan dijual.

Saya share semua ini ke kakak dan orangtua. Sampai akhirnya pagi itu, saya disadarkan oleh mereka bahwa ada faktor yang selama ini tidak pernah saya pikirkan. Yakni, lingkungan dan pola pikir orang-orang di sana. Menurut bapak dan ibu, saya hanya akan dihina jika kembali dan buka toko. Meski bukan untuk tinggal dan menetap lagi di sana. Lantaran, saya yang pernah kuliah ini umumnya dianggap tidak layak untuk buka usaha. Kalau buka usaha juga, mustinya ga perlu kuliah.

Jadi begini, menurut cerita Bapak yang suka nongkrong di warung kopi engko China di Sungailiat. Warung kopi ini sederhana sekali, dan umurnya pun sudah tua. Malah seperti usaha turun temurun dengan jualan standar: kopi hitam, kopi susu, es teler, jajanan pasar. Belum lagi yang nongkrong adalah orang-orang tua. Laki-laki pula. Ibu-ibu jarang nongkrong di sini, apalagi anak muda. Nah, yang empunya toko lantas melontarkan ejekan dan cemoohannya tentang seorang dari Jakarta, lulusan sarjana, dan masih muda yang ternyata buka coffee shop. Lokasinya tidak dekat-dekat dengan toko kopi miliknya, tapi cerita tentang si coffee shop ternyata menyebar luas. Intinya, ketidaksukaan terhadap hadirnya coffee shop. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya untuk buka toko,” kata bapak menirukan si empunya toko.

Padahal, menurut pendapat saya, justru kehadiran coffee shop di kota Sungailiat yang minim sekali dengan hiburan kota dan tempat nongkrong cozy menjadi peluang bagus. Baik untuk yang empunya usaha, pun untuk para penikmatnya. Dan nilai lebih sendiri lagi untuk kota Sungailiat dan daerah Bangka. Bayangkan, setiap kali saya pulang liburan dan kadang rindu dengan suasana kota atau bermalas-malas ria menyeruput secangkir kopi hangat sambil menikmati pancake, tapi saya tidak bisa melakukannya kalau di warung kopi biasa yang dipenuhi engko2 China dengan tungku dapur kehitaman penuh asap.

Heran saya dengan pandangan sempit yang menguasai Bangka. Bagaimana mau maju kalau begini terus? Misalnya, saya pernah menulis paper kuliah dengan tema pengembangan kluster perkebunan lada yang stagnan di Bangka. Padahal, pasarnya mencapai lingkup internasional. Sembari menulis paper, saya malah membayang-bayangkan ingin punya perkebunan lada di Bangka dengan pengolahan yang lebih modern, pemanfaataan tenaga kerja lokal, distribusi yang lebih luas, dan teknik pengemasan yang menarik. Tentunya bukan sekedar untuk mengisi pundi uang saya, tapi juga memajukan Bangka dan Indonesia. Sementara perkebunan lada yang ada sekarang diurus oleh rumah tangga, dan masih berbasis perkebunan rakyat. Hasilnya masih minim dan tidak diperuntukkan jangka panjang. Yang penting punya uang. Saya tidak tahu yang goblok itu pejabatnya atau rakyatnya.

Kembali lagi ke cerita kecil dari Bapak tadi. jelas kisah ini mengusik rasa optimis saya. Tidak akan ada ujungnya karena mental orang-orang yang masih kuno di daerah tempat saya lahir dan tumbuh. Sambil melangkahkan kaki menuju Bank, saya akhirnya memutuskan untuk membayar kuliah dan melanjutkan pendidikan. Kelak, saya akan menyusun strategi bisnis yang lain. Mungkin bukan untuk dikembangkan di Bangka, tapi tempat lain yang lebih terbuka akan kemajuan.

“Ahhh,” saya menghela napas sungguh panjang. Terngiang lagi, kata-kata tetangga saya yang punya toko kelontong, “Tidak penting sekolah tinggi. Tidak penting punya anak yang pintar. Yang paling penting dalam hidup adalah punya banyak uang”. Saya tidak meragukan prinsip hidupnya. Anak bungsunya putus sekolah saat masih SMP karena kecanduan pacaran, dan anak yang sulung menikah dengan tukang potong ayam tanpa kuliah. Tapi, semuanya kaya.

Dan jangan khawatir. Orang-orang seperti ini, masih ratusan jumlahnya di Bangka. So what do I expect?!

Categories: Uncategorized | 1 Comment

manusiawi sekali

hanya ada satu macam dosa, yaitu mencuri. dosa-dosa lain adalah variasi dari dosa itu. kalau kau membunuh, itu artinya kau mencuri kehidupan seseorang. kalau kau menipu, artinya kau mencuri hak seseorang untuk mendapat kebenaran. kalau kau curang, artinya kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan. tak ada tindakan yang lebih buruk daripada mencuri. Jika Tuhan memerhatikan kehidupan kita, ku harap Dia lebih mementingkan hal-hal selain kesukaan minum scotch dan makan daging babi. — kata Baba dalam The Kite Runner (Khaled Hosseini)

Saya tidak tahu apakah kalian pernah merasakan hal yang sama seperti ini: Ketika kamu berbuat salah, menyakiti orang, mengkhianati orang, dan kamu berbuat kasar untuk menutupi kesalahan itu. Kamu ingin respon yang diberikan orang atas kekasaran kamu adalah respon yang sama kasarnya. Bukan malah diam, atau berbaik hati. Karena jika dia diam atau mengalah justru membuat semua jadi lebih sulit, bagi kamu. Akan lebih baik rasanya kalau ia membalas dengan menyakiti atau mengasari kamu. Dengan begitu, kamu dan dia jadi sama jahatnya. Impas. — kata saya sendiri

Mungkin ini tidak adil, tapi sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, bahkan kadang-kadang dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang. Dan mungkin hal ini tak bisa diterima banyak orang. Ketika mereka kukuh dengan segala kelurusan, niat baik, dan rencana matang hingga 10 tahun mendatang, mereka menutup mata dan menolak jika sesuatu yang buruk tiba-tiba menimpa. Yang paling baik, yang paling benar tetap saja mereka. Orang lain pun terpaksa harus mengikutinya karena dia bodoh dan telah memilih hidup di bawah tekanan. Suatu hari, saya masih berharap orang bodoh ini melepaskan diri. 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Blog at WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.